Source: https://www.businessoffashion.com/articles/china-edit/impulsive-addictive-social-commerce-is-chinas-latest-craze

7 Insight dari Pengalaman Berjualan di Carousell

Saya ingin berbagi pengalaman menarik setelah 50 hari berkutat, dan berjualan di Carousell. Saya baru benar-benar serius unggah barang, dan berjualan sekitar 1 bulan. Selama satu bulan ini saya sudah menjual 13 barang, mulai dari baju, sepatu, hingga kalkulator (detil barang yang terjual sila cek akun saya). Ada banyak hal yang ingin saya bagikan, dalam proses mempelajari dan menganalisa platform ini. Berikut beberapa insight yang saya peroleh selama dua bulan pertama bergabung.

screenshot-carousell-profil

Motivasi utama adalah bebersih lemari, dan mendalami bagaimana jualan ritel

Saya punya banyak sekali barang di lemari, yang sudah bosan atau jarang dipakai dan akan terus memenuhi kamar kalau tidak disingkirkan secara produktif. Kedua, saya merasa tertantang sebagai seorang konsultan digital saya harusnya tahu bukan hanya soal kasih nasihat, tapi bagaimana sepak terjang di lapangan.

Saya sudah membuktikan bisa jualan B2B ketika mengelola Upnormals Pingfans, ketika masuk klien cuma 1 maka dalam 6 bulan sudah ada lebih dari 12 klien, dan merek merek market leader jadi klien dan portofolio. Lalu berikutnya berhasil menulis buku, dan mengantarkannya menjadi best seller di Gramedia. Buku ini pun akhirnya dicetak ulang, dan bisa dibeli di Tokopedia.

Lalu saya tertantang bisakah saya jualan online barang ritel? Carousell jadi pertaruhan saya berikutnya. Saya tidak mengejar keuntungan dari sini, tapi proses belajar, dan insight yang sangat penting ketika saya mengisi pelatihan, bahkan konsultansi ke brand. Karena pasti kan ditanya, yakin kamu bisa jualan? Ini soal kredibilitas dan reputasi, dan pengalaman langsung mencoba, akan memberikan warna yang sangat berbeda, dan bisa dirasakan oleh audiens.

Carousell dikelola sebagai sebuah komunitas bukan sekedar ecommerce biasa

Carousell dibentuk sebagai platform komunitas, jadi tidak bersaing dengan platform raksasa seperti Tokopedia, Lazada, Shopee dll. Komunitas ini terasa dari bagaimana mereka mengelola para buyer, yang juga adalah seller. Mereka tahu bahwa penjual mereka sebagian besar bukan seller profesional, tapi orang orang biasa yang menjual produk yang dipakai, dan ingin dijual kembali.

Pendekatan komunikasi mereka baik itu di aplikasinya, promosi yang dilakukan, hingga komunikasi di media sosial terasa sangat hangat, dan memang sangat membantu para penjual amatiran yang memang tujuan utamanya bukan mencari untung dari platform ini.

screenshot-ig-carousell

Beberapa fitur yang sangat mengakomodasi komunitas adalah grup berdasarkan brand, share ke media sosial, berjualan di grup dalam aplikasi dll.

screenshot-group-carousell

Carousell membuat ranking dan algoritma berdasar banyak hal terutama aktivitas dan kecepatan merespon

Carousell seperti platform digital lain menggunakan algoritma tertentu untuk menentukan seller mana yang akan dinaikkan, akan dirangking teratas hasil pencarian dll. Saya menganalisa, variabel yang digunakan antara lain seberapa aktif berinteraksi dengan aplikasinya, dan juga kecepatan merespon pertanyaan dari calon buyer.

Itu tak mengherankan dalam satu bulan ini ,saya sudah menjual belasan item barang preloved. Saya cukup rutin mengunggah barang baru, yang diatur secara berkala. Lalu saya juga rajin follow, dan love barang jualan seller lain. Satu lagi, saya sangat sigap menjawab pertanyaan ketika ada yang kontak berminat pada barang yang dipajang.

Carousell sudah menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk membantu menentukan harga

Para seller pemula, dan amatiran pasti bingung soal menentukan harga yang pas. Carousell memahami ini, mereka akan otomatis memberikan rekomendasi harga sesuai dengan barang-barang lain yang sudah dijual sebelumnya. Mereka bahkan akan merekomendasikan kita untuk menurunkan harga, apabila sudah lama belum laku, agar barangnya cepat terjual, tentunya berdasarkan big data yang mereka punya.

Belajar bernegosiasi dan menentukan harga psikologis

Hal yang paling menarik dari Carousell, adalah berlatih negosiasi dan menentukan harga psikologis. Ini kan ranah hutan belantara, tak ada produk yang sama persis, semua sangat random.

Saya belajar bersabar, dan menemukan titik temu, saat ketemu dengan pembeli yang cerewet, banyak nawar, atau bahkan plin plan. Saya juga belajar diangka berapa sebaiknya saya kasih harga awal? Saya mempelajari, banyak dari mereka yang akan menawar 50% dari harga terpasang baru naik, dan akan mentok di angka75% dari harga terpasang. Jadi saya belajar bagaimana strategi harga yang tepat, memberikan ruang untuk negosiasi.

Kemampuan negosiasi ini kan salah satu keahlian yang langka, padahal sangat dibutuhkan di masa depan, ketika semua hal sudah dikerjakan oleh robot dan mesin.

Konsumen Carousell sebagian besar adalah milenial, dan kelas menengah

Mengapa saya bisa mengambil kesimpulan seperti ini? Karena barang saya yang paling cepat laku yang kisaran harganya di 150.000-250.000. Merek semacam Zara, H&M, Converse, dan brand brand yang jadi favorit kelas menengah yang saya punya laku keras. Sepatu Adidas saya yang limited edition yang dibanderol 1 juta sampai sekarang belum ada yang respon, bahkan sekedar nanya.

Indikator lain saya melihat dari grup-grup yang ada di Carousell, terbanyak grup yang terbentuk tak jauh dari Zara, H&M, Pull & Bear, Nike, Adidas, Uniqlo dll. Ini bagi saya cukup menggambarkan siapa sebenarnya penghuni dominan dan aktif dari aplikasi ini, dan barang apa yang kira-kira akan laku saya jual.

Menerapkan konsep Customer Relationship Management (CRM ) ,dari Cross Selling hingga menjalin hubungan baik

Tiap hari saya baca buku, dan memotivasi klien dan audiens training, pentingnya CRM dan hubungan baik dengan konsumen. Saya juga menerapkan ini di Carousell, saya sangat jujur dengan mereka tentang keadaan barang, bagian mana yang mungkin cacat dll.

Saya juga berusaha untuk cross selling, menawarkan barang lain yang serupa, yang mungkin mereka suka. Bahkan ada dua konsumen, yang bertanya apa ada lagi barang lain yang dijual? Saya pastinya akan memberikan info khusus ke mereka ketika ada barang lain yang saya bosan, dan ingin dijual. Ini sebenarnya kan penerapan paling sederhana dari CRM.

Hal sederhana tentang CRM yang saya lakukan adalah dimulai dengan jujur, dan jelas di profil barang apa saja yang dijual, kondisinya seperti apa dll. Ini dampaknya luar biasa, ketika menjalin hubungan baik konsumen yang beli tidak segan-segan memberikan rating 5 bintang.

Rating ini penting untuk optimasi algoritma, dan tentu saja untuk membangun kepercayaan ke calon pembeli yang akan datang.

Bagaimana tertarik juga untuk mencoba Carousell? Atau yang sudah sangat berpengalaman di Carousell boleh juga berbagi pengalaman, perlu lebih banyak lagi menggali dan optimasi.

Baca Juga:4 Hal Penting Perjodohan Mencari Co-Founder Membangun Startup

 

Tuhu Nugraha

Konsultan Bisnis Digital

Dosen Pasca Sarjana London School of Public Relations (LSPR) Jakarta & Komunikasi UI

Penulis Buku Best Seller WWW.HM Defining Your Digital Strategy

Untuk pembelian buku WWW.HM Defining Your Digital Strategy klik di sini