tiktok

5 Temuan Menarik Mengapa TikTok Digilai Gen Z

TikTok menjadi topik bahasan yang sangat seksi di beberapa bulan belakangan, dibahas oleh beragam media untuk komunitas pemasar dan praktisi digital. Salah satu berita yang viral adalah yang ditulis oleh yahoo, bahwa jumlah unduhan baru TikTok di 2019, mengalahkan Facebook dan Instagram, hanya kalah dari WhatsApp.

Hari ini saya berusaha kembali mencoba, dan memahami TikTok. Saya berusaha memahami mengapa ini disukai seluruh dunia terutama di Generasi Z. Berikut beberapa analisa dan insight yang saya peroleh mengenai TikTok setelah mencoba menonton video, dan membuat video.

 

TikTok adalah anak kandung teknologi mobile yang semuanya bisa dieksekusi via telpon genggam

TikTok ini semacam Shopeenya media sosial. Apa maksudnya? Semua proses membuat, edit dll bisa dilakukan via telpon genggam, dan dari aplikasi TikTok. Ini yang sangat sulit ditandingi oleh platform video lain seperti Youtube, bahkan Instagram. Mengapa bahkan Instagram tak bisa menyaingi? Karena Instagram tak ada fitur musik latar yang memudahkan bagi pembuat konten untuk membuat videonya lebih ekspresif, dan interaktif.

Baca Juga:6 Hal Terkait Fitur Growth Hacking yang Menarik dari Shopee

Satu hal lagi yang perlu diacungi jempol dari aplikasi ini. Aplikasi ini dibuat sangat mudah dan intuitif bagi mereka yang paling gaptek sekalipun. Itu sebab beberapa orang menyebutnya alay, norak dll. Tapi strategi ini juga yang dipakai oleh Shopee. Anda bisa lihat sendiri, seperti halnya TikTok, Shopee bisa mencuri perhatian dan langsung melonjak walaupun sebagai pendatang baru di ecommerce.

Kita kadang lupa, dan egois mengatakan “ah itu kan alay banget, mana mungkin laku”. Dan Anda mungkin lupa bahwa segmen yang disebut alay itu dalam piramida konsumen adalah jumlahnya yang paling besar, dibandingkan segmen pasar shopisticated. Jadi kadang kita mesti juga mawas diri, membedakan dengan apa yang kita suka, dan apa yang punya pangsa pasar terbesar.

 

TikTok adalah platform yang ramah bagi pembuat konten paling amatir sekalipun

Dulu blog dianggap membuat semua orang bisa jadi penulis dan jurnalis. Tapi hanya orang-orang tertentu saja yang punya kemampuan menulis panjang, dan terstruktur. Lalu hadir Twitter, dengan kekuatannya untuk menjadi viral. Semua orang bisa jadi trend setter, dan melontarkan isu. Tapi lagi lagi Anda mesti punya kemampuan menulis, dan lagi lagi masih elitis, karena mereka yang menikmati membaca teks hanyalah mereka yang berpendidikan tinggi.

Lalu muncul Youtube, ini membuat dunia konten memang jadi lebih lebar dan terbuka buat semua orang berpartisipasi. Tapi lagi-lagi ini membutuhkan keahlian tertentu, kemampuan edit video, kemampuan menggunakan kamera, Anda mesti edit kadang pakai laptop dll. Ini jelas tak terjangkau oleh kelas menengah bawah.

Berikutnya muncul Instagram, ini membuat semua orang bisa jadi fotografer dan model. Iya memang dua hal ini menjadi lebih demokratis. Tapi akhirnya yang bisa punya panggung pilihannya Anda modal harta atau tampang. Setidaknya itu yang terjadi saat ini, makanya semua orang tanpa sadar terobsesi dengan kesempurnaan, seperti apa yang ditampilkan di timeline Instagram.

TikTok ini hadir sangat menghentak, hanya dengan model telpon genggam, semua kebutuhan Anda untuk mempermak video ada di apps itu. Anda tidak perlu canggih unduh aplikasi ini itu, yang belum tentu HP-nya cukup memorinya.

Anda tak perlu juga belajar dan mencari beragam aplikasi pihak ketiga, dan belajar rumitnya edit video dll. Kemewahan ini tak bisa Anda temukan di Youtube atau Instagram. Kesimpulannya semua orang secara psikologis ingin diakui, dan eksis walau dia tak bisa menulis, dia tidak kaya raya, tidak super kreatif. Ini jumlahnya tentunya paling gede, dan platform saat ini yang bisa mengakomodasi segmen terbesar ini adalah TikTok.

Baca Juga:5 Temuan Menarik dari Focus Group Discussion Bersama Digital Content Creator

 

TikTok hadir di saat yang tepat, saat konsumen terlalu lelah mengejar kesempurnaan ala Instagram

Dunia saat ini sebenarnya sedang menuju burn out, terutama di Generasi Y dan Gen Z. Instagram bukannya menjadi hiburan, tapi membuat makin depresi? Karena semua orang berlomba terlihat sempurna, foto paling paripurna dari 70 kali jepret, timeline hanya mentoleransi, dan memberi tempat mereka-mereka yang berwajah tampan dan cantik, kehidupan yang bahagia lagi liburan, pamer kemewahan.

Audiens disuguhi konten tentang Kim Kardashian yang bikin tur ke dapurnya, dengan jumlah kulkas ada sekitar 5 buah. Sungguh kehidupan yang sangat tidak realistis dari sebuah pencilan data statistik, berusaha dipaksakan menjadi standar untuk seluruh umat manusia, yang pada akhirnya menyebabkan depresi massal.

 

TikTok anak kandung Generasi Z yang kemampuan fokusnya makin pendek, dan makin instan

Ketika era Youtube video yang dianggap ideal itu adalah berdurasi 3 menit, dan harus bisa menarik perhatian di 10 detik pertama. Lalu bagaimana dengan TikTok? TikTok sangat instan durasi videonya cuma maksimal 15 detik. Kalau Anda bukan Generasi Z, apalagi Generasi yang dibesarkan oleh TVRI seperti saya akan protes, terhibur apa dalam 15 detik???????

Tapi buktinya ini disambut meriah oleh Gen Z, dan ini menunjukkan satu hal generasi ini memang kemampuan fokusnya semakin rendah. TikTok mampu memberikan solusi ke mereka.

 

TikTok adalah platform yang paling kolaboratif, multiplatform dan inklusif

Ini yang menurut saya paling menarik dari TikTok, kalau dibikin peringkat platform media sosial yang paling kolaboratif dan inklusif maka TikTok adalah juara umum dengan skor sangat jauh meninggalkan para pesaing. Di bawahnya ada Youtube yang bisa dibagikan kemana-mana, tapi belum terlalu mengakomodasi membagikan ke aplikasi pengiriman pesan seperti WhatsApp dll.

Di bawahnya tentunya Instagram, yang merupakan bagian dari grup Facebook yang lebih eksklusif dan sangat susah untuk viral. Karena pendekatan mereka memang lebih ingin kontennya eksklusif di kanal mereka.

Coba bandingkan dengan TikTok yang bahkan videonya bisa dibagikan ke WhatsApp dalam bentuk video yang terunduh, ini berarti bisa dinikmati saat offline atau bagi mereka yang sensitif kuota bisa menonton ulang tanpa bayar lagi, atau berbagi via bluetooth. Inovasi mereka yang menurut saya paling menarik adalah, videonya bisa dibagikan ke iflix(salah satu pesaing Netflix).

Bagaimana menurut Anda? Sudah mencoba TikTok?

 

Tuhu Nugraha

Konsultan Bisnis Digital

Dosen Pasca Sarjana London School of Public Relations (LSPR) Jakarta

Penulis Buku Best Seller WWW.HM Defining Your Digital Strategy

Untuk pembelian buku WWW.HM Defining Your Digital Strategy klikdi sini