content-creator

4 Tips Bagi Content Creator Demi Bisnis Yang Berkelanjutan

Content Creator belakangan ini sedang banyak mendapatkan sorotan. Beberapa tulisan ini menjadi viral, dan banyak diperbincangkan oleh netizen, “Ramai Pembahasan Selebgram yang Minta Gratisan dan Barter Endorse. Kok Malah pada Minta-Minta, Ya?”atau yang ini “Menunggu Kejatuhan Rezim Influencer“.

Dua contoh diatas sebenarnya akan menjadi preseden yang buruk bagi industri content creator secara umum. Persepsi negatif, dan stigma yang melekat, kalau dibiarkan akan merugikan semua pihak.

Oleh karena itu saya melihat harusnya para content creator lebih serius melihat ini sebagai sebuah bisnis, bukan hanya sekedar soal kreativitas dan seni. Ini penting, agar industrinya tumbuh, dan juga karir mereka berkelanjutan, bukan hanya naik pesat dalam satu, atau dua tahun, lalu terlupakan.

Lalu apa saja kompetensi yang harus dimiliki oleh konten kreator?

 

Komunikasi dan negosiasi yang baik

Content creator harus memiliki emampuan berkomunikasi, dan menegosiasikan dengan baik beragam kepentingan, serta haknya. Hal ini sangat penting di tengah industri yang hiper kompetitif, dan banyaknya persepsi negatif.

Stigma “sok ngartis”, “banyak maunya” dll itu banyak tersemat ke content creator. Ini akar masalah utamanya dugaan saya, karena sebagian besar mereka hanya terlatih berkomunikasi dengan para fans, dan follower. Mereka tidak bisa dan canggung buat mengkomunikasikan keinginan, harapannya ke klien, atau partner.

Misalnya apakah salah minta endorse, dibarter dengan konten? Tentu saja tidak salah. Beberapa brand akan dengan senang hati melakukan barter, karena bagian dari biaya promosi yang biasanya mereka keluarkan. Permasalahan muncul, karena cara komunikasi yang tidak jelas, terkesan minta-minta atau merasa penting, sehingga menganggap pihak yang dimintai barter itu posisinya lebih rendah.

Negosiasi seperti ini seharusnya dalam posisi yang sejajar, dan proposal barter yang diajukan dengan nilai yang seimbang. Misalnya ingin barter dengan hotel tempat menginap, maka kirim proposal dengan jelas. Harga kamar misalnya satu juta per malam, maka itu akan dibarter dengan 1 kali posting Instagram, dan 2 Instastory sesuai rate card dia sebagai influencer berbayar.

Apabila content creator, menyampaikan maksud dan tujuan dengan jelas, dan saling menguntung. Saya yakin partnernya akan menerima dengan baik. Kalau pun calon partner menolak, maka akan melakukan dengan baik-baik. Mereka menolak, bisa jadi karena saat itu hotelnya merasa belum butuh diporomosikan. Tapi bisa jadi, suatu hari mereka bahkan mau membayar Sang Content Creator secara profesional, ketika memang dirasa perlu.

 

Profesionalisme dan Disiplin

Bisnis butuh kepastian dan standar yang jelas, oleh karena itu profesionalisme dan disiplin jadi kata kunci yang penting. Beberapa hal yang saya sering dengar, bahkan mengalami sendiri ketika bekerja bersama para content creator. Oknum yang telat menyelesaikan tanggung jawab, atau bahkan mangkir. Mundur di saat-saat akhir, atau memberikan pekerjaan tidak sesuai standar.

Contoh kasus, salah satu klien mengeluhkan foto yang dikasih pakai kamera HP, yang pastinya kualitasnya seadanya. Padahal foto di timelinenya pakai foto dengan kamera DSLR. Ketika diminta ambil foto ulang, content creatornya menolak.

Ketika bekerja dengan tidak profesional, sering telat dll, hampir dipastikan akan masuk dalam blacklist, tidak akan lagi diajak kerjasama di masa mendatang. Di komunitas agency digital, bahkan sempat ada yang membuat Google Doc, semua orang bisa memasukkan daftar content creator siapa saja yang diblack list, beserta alasannya.

 

Pemahaman akan norma, etika dan hukum yang berlaku

Kebebasan berkreasi itu tetap ada batasnya, yaitu norma, etika dan hukum yang berlaku. Satu hal yang perlu diingat, ketika sebuah aturan hukum sudah ditetapkan menjadi Undang Undang, maka bersifat mengikat ke semua warga negara, dan dianggap semua sudah tahu.

Content creator banyak yang akhirnya terjebak membuat sensasi, lalu terhujat atau terseret pusaran hukum. Sebagian besar yang kena kasus hukum, karena mereka tidak melek hukum yang berlaku, sementara mereka lupa, konten mereka ini punya konsekuensi hukum. Content creator ini adalah media, media itu punya tanggung jawab moral dan konsekuensi hukum.

Ada beberapa hal yang mungkin jadi biasa saja, ketika itu diperbincangkan dengan teman-teman dekat, tapi akan menjadi polemik atau bahkan tersangkut kasus hukum ketika itu diunggah ke media sosial. Karena substansi yang diobrolkan lisan, tidak meninggalkan jejak, sementara di media sosial ada namanya jejak digital.Kasus ikan asin, dan Kimi Hime bisa jadi pembelajaran buat kita semua.

Baca Juga:7 Ide Pemanfaatan Internet Yang Produktif

 

Kreativitas bukan hanya soal membuat konten, tapi juga model bisnis, dan menghasilkan uang

Content creator itu sebenarnya kan entrepreneur. Dia harus memikirkan bukan cuma menghasilkan konten yang bagus, dan mendatangkan trafik yang tinggi. Tugas berikutnya yang lebih penting bagaimana menciptakan model bisnis, bagaimana menghasilkan uang.

Kompetensi ini perlu sekali dimiliki, agar tidak hanya sekedar bikin sensasi. Karena memang sensasi itu paling gampang menarik perhatian. Tapi apakah dengan sensasi, lalu trafik tinggi akan berbanding lurus dengan penghasilan?Intinya adalah bagaimana, dan aset ketenaran dan fans yang loyal ini mereka bisa menghasilkan uang, menciptakan produk atau jasa yang audiens mau membayar. Jadi tidak hanya bergantung pada endorse atau iklan dari platform.

Baca Juga:9 Ide Model Bisnis Bagi Blogger

Setuju atau ngga dengan ini? Ada ide atau tambahan mungkin? Mari kita diskusi.

 

Tuhu Nugraha

Konsultan Bisnis Digital

Dosen Pasca Sarjana London School of Public Relations (LSPR) Jakarta & Komunikasi UI

Penulis Buku Best Seller WWW.HM Defining Your Digital Strategy

Untuk pembelian buku WWW.HM Defining Your Digital Strategy klikdi sini