content-creator

5 Temuan Menarik dari Focus Group Discussion Bersama Digital Content Creator

Sekitar 3 minggu yang lalu saya diminta menjadi panelis Focus Group Discussion (FGD), bersama Della Delia Ex JKT 48 di Req Space. Para peserta diskusi pada saat itu sangat beragam mulai dari para digital content creator, hingga agency yang biasa bekerjasama dengan content creator.

img20190820135440

Ada beberapa hal menarik berdasarkan pengamatan saya selama diskusi berlangsung. Saya merangkumnya, dalam beberapa poin berikut.

Persoalan yang sudah menjadi rahasia umum, perilaku dan sikap yang tidak menyenangkan

Pihak agency mengeluhkan sikap dari content creator, atau manajernya yang susah diatur, semaunya sendiri, merasa sangat penting & minta diistimewakan. Hal-hal yang sangat mengganggu, dan membuat frustasi.

Content creator merasa dirinya punya pengaruh, dan kekuatan yang besar yang bisa menggerakkan massa, dan terkadang menjadi angkuh, dan susah diatur. Padahal di sisi lain agency juga punya kuasa untuk menentukan bekerjasama dengan siapa, atau memasukkan daftar hitam yang akan merugikan Content Creator.

Hal lain yang krusial adalah soal profesionalitas terutama memahami brief, tujuan brand, dan disiplin

Beberapa hal lain yang jadi masukan,& keluhan dari pihak agency adalah, content creator tidak membaca brief, mengerti tujuan dari brand, serta disiplin untuk publikasi sesuai jadwal yang ditentukan.

Ada cerita yang sangat mengejutkan, Content Creator minta dibayar dimuka, lalu dia tidak memenuhi kewajiban, dan menghilang hingga dua bulan kemudian baru membuat konten yang dijanjikan. Ini tentu sangat membuat frustasi dari sisi agency.

Atau cerita lain, content creator tidak membaca brief dengan baik, dan paham tujuan brand menggunakan mereka untuk apa. Content creator misalnya membuat foto di mana produknya tidak tampak dengan jelas dll. Ini juga hal yang banyak dikeluhkan oleh para agency.

Content Creator belum paham siapa sebenarnya yang harus didekati untuk mendapatkan pekerjaan

Ketika FGD, ada beberapa content creator di Twitter yang hadir. Mereka pernah mendapatkan satu pekerjaan dari perusahaan rokok. Tapi setelah itu tidak pernah mendapatkan lagi, mereka bingung ke mana mereka harus membangun jejaring agar secara terus menerus mendapatkan pekerjaan, dan menghasilkan uang.

img20190820135742

Content Creator masih meraba-raba sejauh mana kreativitas yang bisa dimainkan terkait konten dari brand

Sesi diskusi, pertanyaan yang diajukan dari content creator ke agency menunjukkan, mereka masih bingung, sejauh mana kreativitas bisa dikembangkan, namun bersebrangan dengan tujuan brand.

Di sisi lain, keluhan dari agency, content creator membuat pesan brand di kanal mereka tanpa sentuhan kreativitas, terlihat kaku dll. Hal ini tentunya berusaha dihindari oleh brand, karena terkesan terlalu iklan, dan tidak sesuai dengan persona content creator di media sosial.

Ternyata di sisi lain, ada ketakutan, dan keraguan dari content creator. Mereka tidak paham ekspektasi brand, dan agency terhadap mereka seperti apa.Forum ini sangat baik, untuk kedua belah pihak bisa saling memahami tantangan dari sisi masing-masing.

Content Creator diharapkan punya kompetensi sebagai pebisnis, bukan hanya fokus soal kreatif

Diskusi ini mengkonfirmasi asumsi saya sebelumnya, bahwa content creator itu hanya fokus, dan sibuk terkait area kreatif. Mereka lupa bahwa, mereka ini sedang berbisnis, dengan menawarkan jasa membuat konten, sekaligus media publikasi. Oleh karena itu mereka, atau timnya harus paham aspek lain misalnya terkait kontrak kerja, perpajakan, penentuan harga, membaca analytics dan membuat laporan terkait konten yang dibuat dan dipublikasikan, membangun persona untuk diferensiasi dll.

Banyak cerita yang juga diamini pihak agency yang hadir saat itu, Content Creator bisa mengubah rate card, dan harga sesuka hati, dengan alasan follower, atau trafik naik drastis. Tantangan lain, content creator tidak mau dipotong pajak, atau tidak punya NPWP, sementara bagi agency mereka harus membuat laporan pertanggungjawaban termasuk terkait pajak.

Kaitannya dengan analytics, para content creator diharapkan mampu untuk membuat laporan dari konten yang dibuat dan dipublikasikan di kanalnya. Ini akan sangat memudahkan pekerjaan dari agency, apalagi bila mereka bisa memberikan benchmark, dan evaluasi apa yang bisa dipelajari, dan diperbaiki di masa depan.

Baca Juga:4 Tips Bagi Content Creator Demi Bisnis Yang Berkelanjutan

Itu beberapa poin penting dari FGD yang dilakukan oleh Req Space, salah satu kepentingan dari FGD ini adalah Req Space akan membuat sebuah akademi bagi content creator, tapi kurikulumnya bukan terkait dengan bagaimana membuat konten, dan menjadi viral. Tetapi bagaimana membuat mereka, sudah siap masuk ke industri, agar mereka bisa berkelanjutan dan punya karir yang panjang.

Baca Juga:9 Tips Bagi Orang Tua Mendampingi Anak Jadi Digital Influencer

 

Tuhu Nugraha

Konsultan Bisnis Digital

Dosen Pasca Sarjana London School of Public Relations (LSPR) Jakarta & Komunikasi UI

Penulis Buku Best Seller WWW.HM Defining Your Digital Strategy

Untuk pembelian buku WWW.HM Defining Your Digital Strategy klikdi sini