create-experiences

5 Alternatif Redefinisi Fungsi Mall di Era Ekonomi Digital

Tejadi perubahan besar perilaku konsumen, dalam membeli produk, dan spending. Mall mulai sepi, beberapa tenant tutup. Pertama, konsumen kalau cuma urusan belanja akan lebih memilih belanja via online. Kedua, tren apa yang menjadi prioritas spending, yang bergeser pada membeli pengalaman dibanding beli fashion.

Sebenarnya yang perlu dipikirkan bukan sekedar bagaimana mengisi tenant di mall, tapi para pelaku ritel harus belajar memahami terjadi perpindahan tren belanja konsumen. Industri ritel perlu meredefinisi perannya, apa masalah konsumen yang bisa mereka selesaikan.

Lalu apa yang harus dilakukan? Ada banyak alternatif untuk meredefinisi peran mall; sebagai experience destination, ajang kolaborasi dengan komunitas, tempat ngumpul, destinasi mengisi konten media sosial, tempat untuk pamer dan ngeceng.

Mall sebagai experience destination

Generasimilenial mau mengeluarkan uang lebih, untuk sesuatu yang memberikan pengalaman yang menyenangkan dan tak terulang. Oleh karena itu, mall harus bisa menjadi tempat di mana mereka misalnya melihat pameran, pementasan seni, talk show, atau tenant-tenant yang fokus menawarkan pengalaman. Misalnya tempat bermain, atau misalnya yang dilakukan oleh Plaza Indonesia, tenant khusus Haluu World sebagai destinasi narsis.

Atau bisa juga menjadi tempat kerja yang gaya, dan berkelas. Sekali lagi Plaza Indonesia unggul terkait dengan ini, mereka menggandeng GoWork buka coworking space di sana. Seandainya misal jualan ritel fashion, ide yang bagus misalnya bikin produk limited edition, yang berkolaborasi dengan artist tertentu dan hanya dijual di mall itu, dan sistemnya lelang.

Mall sebagai wadah untuk komunitas bertemu, dan berkolaborasi

Komunitas dan anggotanya yang loyal bisa jadi penarik trafik di mall. Era digital saat ini, banyak sekali komunitas yang terbentuk dari yang mainstream sampai dengan yang aneh-aneh yang mungkin kita tidak tahu itu ada, dan jumlah anggotanya sangat terbatas. Karena memang tang tertarik hanya orang tertentu.

Anggota komunitas yang sangat loyal, pasti akan dengan senang hati bergerak dan bertemu dengan sesama mereka, di manapun itu berada. Karena momentum ini tidak bisa tergantikan, dan tidak bisa dikirim via delivery ke rumah.

Mall sebagai tempat ngumpul

Konsumen saat ini ke mall salah satunya adalah untuk tempat ngumpul. Oleh karena itu, yang mereka cari adalah yang banyak kafe, resto atau tempat buat ngumpul ngumpul yang seru. Ritel fashion dll itu hanya bonus, karena kalau mau berbelanja mereka sudah punya lebih banyak pilihan via online dan ecommerce.

Mall sebagai tempat yang murah untuk mengisi konten media sosial

Alasan lain untuk bisa menggerakkan milenial dan trafik ke mall adalah berfoto ria. Beberapa kota di dunia mulai menggunakan street artisant untuk membuat mural yang cantik, dan jadi spot foto para turis. Contohnya yang banyak berseliweran adalah George Town di Penang.

Kenapa mall tidak melakukan gebrakan yang sama, membuat sudut-sudutnya lebih instagrammable dengan mural. Atau ruangan yang kosong, ditutup dengan partisi yang bukan cuma fungsional tapi menggoda untuk jadi spot foto.

Tematik hari besar juga saat ini sudah dijadikan momentum untuk membuat spot spot yang menggairahkan orang untuk berkunjung, dan berfoto. Tugas mall yang utama kan memang mendatangkan pengunjung, yang akhirnya akan mampir ke berbagai tenant.

Mall sebagai tempat pamer dan ngeceng

Sebuah diskusi yang menarik dengan salah satu mentor saya, mall itu buat seen and to be seen. Itu bener banget!!! Sedari dulu mungkin memang begitu, tapi saat ini kebutuhan itu makin meningkat. Apa gunanya belanja baju terkini di online, kalap beli kacamata ala korea terbaru, iphone terbaru, laptop tercanggih dll kalau tidak ada wahana untuk pamer? Kita membeli sesuatu itu kan agar dipuji orang lain.

Mall harus memfasilitasi ini lebih banyak, tempat di mana bisa duduk gratis sambil ngecharge HP misalnya? Atau kafe-kafe dengan posisi strategis sehingga mudah dilihat dan melihat orang lain. Satu lagi yang lebih ekstrim, kenapa tidak membuat terobosan baru di konten media sosial mall yang isinya gitu gitu aja.

Caranya? Ide liar saya adalah, sewa fotografer yang akan meng-candid para pengunjung dengan gaya fashion terbaik dan terunik misalnya. Lalu minta ijin ini diupload di media sosial resmi mall. Konsumen saat ini didominasi mereka yang terobsesi viral, dan terkenal, kenapa tidak memfasilitasi itu? Dengan membuat candid ala street style.Mall bisa menjadi the next Harajuku!!!

Gimana dengan ide ini? Apakah masuk akal? Atau ada ide brilian lainnya? Yuk ditunggu di kolom komentar…

 

Tuhu Nugraha

Konsultan Bisnis Digital

Dosen Pasca Sarjana London School of Public Relations (LSPR) Jakarta

Penulis Buku Best Seller WWW.HM Defining Your Digital Strategy

Unduh e-book GRATISdisini

Load More
Something is wrong. Response takes too long or there is JS error. Press Ctrl+Shift+J or Cmd+Shift+J on a Mac.