social-vs-trad

6 Tantangan di Era Digital Bagi Industri Media

Disrupsi digital terjadi di mana mana, cepat atau lambat dampak teknologi akan mempengaruhi semua industri. Industri yang terasa dampaknya saat ini adalah, di industri media. Saya akan membahas lebih khusus, pada industri media pemberitaan.

Identifikasi permasalahan menjadi penting untuk memetakan, dan melihat apa yang sedang terjadi. Setelah itu maka baru bisa membuat perencanaan apa yang harus dilakukan, untuk menjawab tantangan ini.

Konsumen yang kehilangan kepercayaan pada media mainstream

Keriuhan media sosial, membangun kecurigaan massal media mainstream tidak independen, dan mereka tak sadar media sosial juga lebih bias dan tidak terstandarisasi. Fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia. Munculnya media sosial sejujurnya diawal sangat membuat saya antusias, apalagi dengan jargon wisdom of crowd. Ini akan meruntuhkan hegemoni, dan monopoli terhadap informasi. Arus ini juga membawa demokratisasi kepemilikan media, dan menyampaikan pesan tak perlu bergantung pada media besar.

Tapi pada kenyataannya, dampak negatifnya juga tak kalah merusak. Audiens tidak percaya pada media mainstream, karena dianggap memihak dll. Mereka lebih mempercayai blog, video dll yang dibuat dengan tanpa standar yang jelas, orang yang belum tentu ahli di bidang yang disampaikan, dan bercampur juga dengan hoax dan fake news.

Ini menjadi sesuatu yang sangat berbahaya, dan menjadi tantangan bagi media bagaimana mereka bisa membangun lagi kredibilitas di tengah euforia masyarakat. Media menurut saya, memang tak ada yang 100% independen, tetapi media mainstream paling tidak taat pada etika jurnalistik, punya kompetensi dasar untuk mencari, dan menyampaikan berita. Ini yang harus kembali dikomunikasikan secara berkala ke publik.

Kecepatan versus Akurasi, kegalauan media di tengah audiens yang juga bingung butuh pegangan

Era digital membuat konsumen menuntut semua serba cepat, termasuk penyajian informasi, tapi di sisi lain, ini kadang mengorbankan akurasi, akibatnya audiens menjadi tidak percaya ke media tersebut. Audiens memang membutuhkan penyajian informasi yang sangat cepat, oleh karena itu media menjawab dengan berlomba yang paling cepat, dan unggul dalam menyajikan informasi.

Dampaknya adalah banyak berita yang naik, tapi akurasinya dipertanyakan. Sering kali kita liat, media mainstream menaikkan berita, lalu direvisi akibat terlalu napsu update ternyata salah, karena belum melakukan konfirmasi, kesalahan penyebutan nara sumber dll.

Akhirnya audiens kehilangan kepercayaan pada media, dan kehilangan pegangan mana informasi yang benar, dan bisa dipercaya. Dan lebih percaya pada cuplikan yang tersebar di Youtube, Facebook, atau WhatsApp, karena dishare oleh orang yang mereka percaya, biasanya teman, saudara dll. Di sisi lain informasi hoax, atau fake news yang sengaja disebar di media sosial lebih sensasional, dan dirancang untuk langsung menyerang otak reptil, sehingga kita tidak pakai berpikir logis untuk menerima, dan turut menyebarkan.

Pemasukan turun, akibat jumlah pengiklan menurun

Tantangan lain adalah jumlah pendapatan yang turun, akibat pengiklan menurun drastis. Ini langsung menohok operasional media. Jumlah pengiklan turun bukan cuma karena jumlah audiens yang menurun, akibat audiens tidak mempercayai media mainstream, tapi memang alokasi anggaran iklan sudah bergeser.

Ada banyak media baru yang muncul, dan berbagai media baru untuk beriklan atau berkomunikasi dengan audiens. Media mainstream konvensional sering kali tidakmmengantisipasi hal ini.

Kompetitor baru yang tidak terdeteksi, karena memahami industrinya dengan sangat sempit

Cara pandang konvensional yang waspada hanya pada kompetitor di industri yang sama sudah tidak relevan, Anda harus melihat dalam perspektif yang lebih luas. Contohnya ketika melihat bahwa pesaing Kompas hanya Media Indonesia, Republika dll. Itu sangat tidak bijaksana. Pesaing Kompas juga Detik, Kumparan, bahkan juga Whatsapp, Facebook, Line. Mengapa bisa begitu? Karena sebenarnya semua ini memperebutkan audiens yang sama, yaitu audiens yang membutuhkan informasi.

Di sisi lain, dalam bersaing mendapatkan kue iklan maka juga tak bisa hanya melihat Kompas akan bersaing dengan Detik, Kumparan dll, lalu solusinya membuat versi digital. Kalau cara pandangnya seperti ini, maka bersiaplah kecewa dan frustasi. Hal ini pernah saya dengar dikeluhkan oleh salah satu jurnalis senior, dia mengatakan Tribunnews itu trafiknya paling tinggi saat ini, tapi jumlah iklan yang diperoleh tidak bisa menyamai iklan di Kompas cetak ketika masa kejayaan.

Ada satu yang terlupakan di sini, pesaing mereka buka cuma media online, tetapi juga media besar semacam Google group dan Facebook Group yang mengambil porsi terbesar iklan di digital. Jaman dahulu, kue iklan itu akan terbagi berbasis geografis, maka akan ada raja raja kecil penguasa kue iklan di tiap wilayah, ketika era digital maka winner takes all, dan lintas batas maka hal ini tak relevan lagi.

Karena Facebook atau Google bisa membuat segmentasi audiens yang jauh lebih spesifik untuk mentarget audiens ketika brand memasang iklan. Ini bisa dilakukan karena kemampuan mereka mengumpulkan data, dan memprofilkan audiens.

Bagi pengiklan cara berpikirnya bukan membeli mana yang trafik paling besar, tapi media mana yang paling relevan untuk berkomunikasi ke audiensnya.

Kurangnya pemahaman untuk mengeksplorasi model bisnis baru di industri media

Industri media sangat penting untuk mengeksplorasi model bisnis baru, karena tak bisa mengandalkan dari iklan seperti masa lalu. Karena seperti dibahas sebelumnya, porsi terbesar sudah pasti akan diambil oleh Google dan Facebook.

Media selama ini lebih fokus pada konten, dan konten. Konten yang bagus diharapkan akan mendatangkan trafik yang tinggi, trafik yang tinggi maka akan menghasilkan uang dari pengiklan. Konsep ini mungkin valid di masa lalu, tapi di masa kini hal ini saja tidak cukup.

Media harus mengeksplorasi berbagai potensi, dan aset yang mereka miliki untuk kemudian menawarkan ke target audiensnya, solusi apa yang mereka butuhkan, dan mereka mau mebayar untuk solusi itu.

Media dituntut juga untuk seimbang antara menyediakan konten yang bagus, dan penciuman yang tajam dalam mengelola bisnisnya. Tim bisnisnya harus bisa berpikir strategis, mengeksplorasi kebutuhan konsumen, tidak cukup hanya membuat rate card harga pasang iklan.

Nilai tambah dan eksplorasi model bisnis harus terus dicoba, dan dieksperimen agar medianya bisa bertahan, dan terus berkembang.

Baca Juga:9 Ide Model Bisnis Bagi Blogger

Konvergensi media mainstream dengan media sosial

Seharusnya media mainstream bisa memanfaatkan media sosial untuk meningkatkan trafik, dan membangun loyalitas audiensnya, dengan cara membangun interaksi dua arah. Media sosial menjadi kompetitor, tapi juga seharusnya bisa menjadi pintu lain untuk menjangkau audiens, dan meningkatkan jumlah trafik, syarat utamanya adalah media sosial diperlakukan sesuai sifat alamiahnya.

Akun media sosial media mainstream yang interaktif, membangun komunitas, dan meminta masukan dari audiens maka akan membuat media tersebut akan makin kuat. Contoh yang menarik adalah bagaimana Tirto bisa mengemas konten yang berat, menjadi sangat seksi dan menarik bagi milenial di Instagram Tirto.Id, dengan konsisten menggunakan infografis dan teks yang lebih witty, dan mengundang dialog.

Mereka yang tertarik untuk mempelajari lebih lanjut akan mencari artikelnya, mereka yang malas membaca lebih panjang, atau cukup tahu saja informasi itu maka akan mendapatkan informasi yang akurat dan media yang terpercaya.

Sering kali saya melihat, media menggunakan kanal media sosialnya seperti sedang memasang iklan. Hanya sekedar melempar link informasi, lalu sudah berharap audiens akan membuka linknya. Cara berpikirnya satu arah, dan egois. Mindsetnya cuma mengejar trafik. Lalu apa gunanya mereka mengikuti media sosial media tersebut?

Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengundang interaksi, dan meningkatkan trafik. Misalnya meminta masukan topik berikutnya yang akan dibahas, teaser laporan khusus yang akan tayang, foto atau cuplikan video di balik layar. Memperkenalkan personil dibalik tim redaksi dll. Hal-hal sederhana ini akan membangun hubungan timbal balik, kepercayaan dan loyalitas bagi audiens.

Apakah ada hal lain yang ingin ditambahkan? Yuk mari kita berdiskusi di kolom komentar.

Tuhu Nugraha

Konsultan Bisnis Digital

Dosen Pasca Sarjana London School of Public Relations (LSPR) Jakarta & Komunikasi UI

Penulis Buku Best Seller WWW.HM Defining Your Digital Strategy

Untuk pembelian buku WWW.HM Defining Your Digital Strategy klik di sini: bit.ly/pesanbukutuhu