media-company

9 Potensi Model Bisnis Media Pemberitaan

Saya sejak lama tertarik menulis terkait ini, karena banyak grup media besar yang tumbang akibat disrupsi digital, mengeluhkan menurunnya pendapatan dari iklan. Dan lebih mengagetkan lagi, ketika sesi diskusi di LSPR bersama salah satu dosen Edith Cowen University, permasalahan media di Australia juga ternyata sama saja.

Halini akan mengancam independensi redaksi pemberitaan, karena pemasukan yang menurun sementara biaya operasional tentunya akan terus meningkat. Di sisi lain, media mainstream kehilangan kredibilitas di mata konsumen, yang sedang euforia dengan media sosial.

Isu model bisnis dan monetisasi,saya sudah menulisnya sebagai salah satu tantanganakibat digitalisasi, sila bacadi sini. Tulisan ini akan membahas lebih mendalam mengenai apa saja potensi model bisnis yang bisa dicoba dan dieksperimen oleh media pemberitaan. Ini didasarkan pada pengamatan, dan riset sederhana di internet.

Cara paling klasik adalah menyediakan ruang iklan

Ini adalah cara yang paling sederhana, dan mungkin menjadi top of mind oleh media media konvensional, yang bertransformasi ke digital. Ada beberapa tipe iklan yang bisa dibuat dalam media digital, mulai dari banner seperti halnya di media konvensional, lalu konten bersponsor, dan sales leads.

Konten bersponsor saat ini mulai marak, bisa dalam bentuk artikel, video, bahkan infografis. Konten berbayar juga sering kali muncul di akun media sosial resmi dari media tersebut. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah, etika untuk memberikan pernyataan bahwa konten ini berbayar, yang akan membedakannya dengan liputan yang sifatnya independen dari redaksi. Hal ini penting untuk menjaga kredibilitas, dan reputasi media dimata audiens.

Sales leads, adalah di mana media menjadi afiliasi dari klien untuk menghasilkan database, misalnya alamat email atau nomor telpon dll yang bisa difollow up oleh klien. Ini biasanya media akan dibayar berdasarkan performa yang diharapkan, misalnya per klik, per database atau konversi penjualan.

Namun metode ini tentunya hanya akan menyisakan kue iklan yang kecil, karena sebagian besar disedot dua raksasa dunia Google dan Facebook

Baca Juga:Bagaimana Organisasi Memulai Transformasi Digital?

Komunitas online, adalah potensi berikutnya yang bisa dimonetisasi

Media harusnya membangun komunitas yang loyal, karena komunitas yang loyal akan bisa menggerakkan banyak potensi monetisasi. Contohnya Kompas, dengan komunitas blogger Kompasiana mendapatkan banyak pemasukan dari lomba blog, kebutuhan brand mengundang influencer ke acara mereka dll.

Terintegrasi dengan menjadi event organizer untuk acaranya sendiri atau pihak ketiga

Komunitas yang dimiliki oleh media, akan menjadi nilai tambah bagi media tersebut untuk mendatangkan massa. Misalnya IDNTimes, punya acara Beauty Fest Asia. Femina Group juga punya acara yang ikonik, Jakarta Fashion Week. Acara ini tentunya bukan cuma akan menarik banyak pengunjung, tetapi juga para sponsor.

Berjualan merchandise bisa jadi alternatif lainnya

Apabila media mempunyai komunitas yang loyal, sangat mungkin para anggota yang loyal ini untuk membeli beragam merchandise mulai dari kaos, tote bag dll karena ini bagian dari simbol yang menguatkan ikatan emosional sebagai bagian dari komunitasnya.

Jadi strategi ini akan punya dampak berganda, selain menghasilkan uang, ini juga bisa meningkatkan iklan emosional dan loyalitas bagi para anggotanya.

Berlangganan konten dengan analisis yang lebih komprehensif, dan mendalam

Beberapa media sudah mulai melakukan ini, untuk menggaet konsumen loyal yang memang membutuhkan berita yang lebih komprehensif. Mereka mengedukasi pasar, untuk membuat konten yang bermutu dan mendalam, butuh biaya yang tidak sedikit. Oleh karena itu beberapa media mulai bereksperimen dengan premium content.

Contoh yang sudah melakukan ini adalah Kompas, The Jakarta Post, hingga Tech in Asia yang berbahas Inggris. Namun metode ini sepertinya masih sangat terbatas, karena konsumen yang mau membayar di Indonesia jumlahnya sangat kecil, perlu edukasi yang panjang.

Rumah produksi untuk beragam konten

Media pemberitaan punya semua data, dan infrastruktur untuk membuat konten mulai dari video, infografis hingga teks. Oleh karena itu, mengapa tidak memanfaatkan ini untuk membuat konten bagi klien, mulai dari iklan video, hingga teks, infografis, konten edukasi misalnya blog korporat dll.

Analisis big data, dan konsultan

Media harus keluar dari zona nyamannya, hanya melihat bahwa apa yang mereka lakukan hanya sekedar menyajikan berita yang berkualitas dan independen, lalu memanen iklan dari trafik yang masuk. Media pemberitaan itu mempunyai data yang sangat banyak dan lengkap, bayangkan apabila data ini dikelola dengan baik, dan dianalisis.

Data ini bisa digunakan untuk memprediksi masa depan, dan juga memberikan rekomendasi apa keputusan yang harus diambil. Hal ini sebenarnya dibutuhkan bukan cuma oleh perusahaan, tetapi juga oleh pemerintahan, bahkan politisi.

Ini model bisnis yang tidak akan bisa dilakukan oleh Facebook dan Google, karena mereka tidak punya jurnalis yang mencari dan menggali informasi. Aset ini apabila digabungkan dengan teknologi kecerdasan buatan (AI), dan data analyst yang handal, maka akan menjadikan perusahaan media menjadi konsultan yang mumpuni.

INDTimes sebagai pendatang baru bahkan sudah memulainya dengan membuat IDN Research Institute, yang ingin menjadi thinktank yang independen.

idn-times

Melakukan beragam bentuk kerjasama dan kolaborasi

Saya menemukan hal yang menarik bagaimana South China Morning Post (SCMP) dari Hong Kong bisa bertahap dan bertransformasi di era digital. Salah satu yang mereka lakukan adalah menjadi partner penyedia konten untuk Tech in Asia, terkait berita dan liputan startup di Cina.

Asumsi saya Tech in Asia membayar ke SCMP untuk konten yang dipublikasikan di Tech in Asia, walaupun tetap menyertakan link sumber aslinya ke SCMP. Ini kolaborasi yang win win solution, karena Tech in Asia tidak perlu mempunyai reporter di Cina, dan secara biaya akan jadi lebih murah. Sementara bagi SCMP ini menjadi tambahan pendapatan untuk konten yang memang rutin dibuat. Contoh artikelnya bisa dicek di sini.

Pelatihan dan Sertifikasi Online

Model bisnis ini yang sedang dieksperimen oleh Tech in Asia Indonesia, menggunakan keahlian yang mereka punya, dan sumber data yang sangat kaya yang mereka miliki. Pembaca ditawarkan pelatihan online, dan mendapatkan sertifikat online apabila telah menyelesaikan pelatihan ini.

Ini ide yang brilian, karena sebenarnya mengolah ulang aset data, dan informasi yang sudah mereka miliki saat ini, untuk menghasilkan uang, yang juga memberikan solusi bagi konsumen. Konsumen butuh meningkatkan kompetensi secara berkala, ditengah digitalisasi, dan inovasi tanpa henti. Beberapa ahli pendidikan mengatakan, ke depan tiap individu harus belajar kompetensi baru per 6 bulan agar tetap relevan dengan perubahan.

Jadi mana yang paling sesuai untuk media Anda? Atau ada ide lain yang mau ditambahkan? Mari diskusi.

Baca Juga:9 Ide Model Bisnis Bagi Blogger

 

 

Tuhu Nugraha

Konsultan Bisnis Digital

Dosen Pasca Sarjana London School of Public Relations (LSPR) Jakarta & Komunikasi UI

Penulis Buku Best Seller WWW.HM Defining Your Digital Strategy

Untuk pembelian buku WWW.HM Defining Your DigitalStrategyklik di sini:bit.ly/pesanbukutuhu