Source: https://www.ennomotive.com/iot-technology-can-predict-future/

Wajah Indonesia di Awal 2020: Konsumsi 4.0, Produksi 3.0, dan Pola Pikir 0.1

Ide ini muncul dalam sebuah diskusi di inner circle, tentang betapa lompatan konsumsi kita yang begitu canggih dengan segala macam teknologi terbaru terutama di media sosial, ternyata tidak sinkron dengan kemampuan produksi yang masih mengandalkan buruh murah menjaga mesin mesin otomasi (3.0), tapi mengenaskannya pola pikir kita masih tertinggal di era pra industrial, yaitu era agraris yang sedikit lebih modern, makanya dinamakan 0.1.

 

Konsumsi 4.0: Netizen yang paling cepat mengkonsumsi beragam teknologi terbaru

Netizen Indonesia memang pasar yang sangat empuk untuk berbagai teknologi terbaru. Indonesia adalah pengguna Facebook nomor 4 terbesar di dunia, dengan jumlah pengguna 120 juta, berdasarkan informasi  dari CNBC

Bagaimana dengan Tiktok?`Media sosial baru berbasis video yang lagi digandrungi Gen Z. Informasi dari Tribunnews pengguna Tiktok di Indonesia rata-rata menghabiskan waktu 29 menit per hari untuk menonton videonya.

Baca Juga: 5 Temuan Menarik Mengapa TikTok Digilai Gen Z

Whatsapp digunakan oleh 83% pengguna internet di Indonesia, jumlahnya sekitar 143 juta pengguna, seperti diberitakan di Liputan 6.

Jadi pertumbuhan pesat infrastruktur telekomunikasi terutama internet, memang berhasil membuat masyarakat melek menggunakan internet, dan adopsi penggunaan internet sangat tinggi. Tapi sayangnya aspek yang digunakan itu sangat konsumtif. 

Kalau Anda belum yakin, maka Anda bisa melihat data hasil riset terbaru Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) 2018, berikut ini: 

APJII 4

Kalau melihat dari sini, proporsi terbesar intenet kita digunakan untuk chatting, dan bermedia sosial sekitar 43,6%. Apakah hanya ini kegunaan internet yang infrastrukturnya begitu mahal? Idealnya tentu saja tidak, tetapi ini jadi pekerjaan rumah semua pihak, untuk mengedukasi masyarakat. Internet cepat ini bisa buat apa saja? Dan apa risikonya? World Economic Forum (WEF) sebenarnya sudah menulis soal 8 aspek kompetensi dan kecerdasan digital yang harus dimiliki. Saya pernah menulis terkait ini, sila dibaca di sini

 

Produksi 3.0: Industri di Indonesia masih terpaku di Industry 3.0 dan gamang melompat ke 4.0

Saya kebetulan banyak terlibat di berbagai perusahaan, dan juga para pengambil kebijakan di pemrintahan terkait digitalisasi. Saya bisa merasakan, dan melihat langsung bahwa kita masih jauh untuk memasuki era Industry 4.0. Visi yang sudah diturunkan oleh kementrian terkait strategi di era ekonomi digital, baru ada cetak biru terkait ecommerce. Sementara lompatan negara-negara tetangga sudah sangat jauh di depan bagaimana menyongsong Internet of Thing (IOT), digitalisasi kesehatan, robotik, teknologi pangan dll.

Indonesia mungkin boleh bangga, karena punya startup digital unicorn terbanyak di Asia Tenggara, jumlah startup digital di Indonesia juga terbesar di Asia Tenggara. Tetapi di balik itu ada sebuah sisi gelap yang jarang diungkapkan media. Startup digital yang sangat banyak, juga menunjukkan bahwa perusahaan konvensional terlambat berinovasi dan bertransformasi digital. 

Gojek super apps, Tokopedia, Ovo dll mendisrupsi pasar karena perusahaan konvensional lambat bergerak. Singapura punya DBS yang menjadi benchmark  transformasi digital perbankan,  di seluruh dunia.

Thailand punya super apps yang sangat populer bernama TrueID dibangun oleh Charoen Phokphand, dan mereka juga membangun True Digital Park Bangkok, yang visinya menjadi hub untuk inovasi digital di Asia Pasifik. Lalu Indonesia?

 

Pola Pikir 0.1: Cara pandang dan mentalitas agraris yang ditandai dengan konservatisme

Paradoks dari era digital di Indonesia adalah masyarakat yang terlihat begitu modern, dan begitu cepat mengadopsi kecanggihan teknologi. Tapi masih mewarisi mentalitas agraris, salah satu tandanya adalah konservatisme.

Fenomena saat ini misalnya konservatisme agama yang makin menguat, lalu munculnya banyak kerajaan-kerajaan baru yang mengklaim dirinya punya rangkaian sejarah panjang, dan nyatanya banyak yang percaya, dan rela bahkan membayar untuk menjadi pengikut. Ini pertanda masyarakat kita masih tertahan di masa lalu, walaupun medium komunikasinya modern.

Pola pikir lain yang juga menandakan konservatisme era agraris adalah kembali tren pemikiran banyak anak banyak rejeki. Ini sebenarnya adalah cara pikir era pertanian, karena banyak anak berarti ada banyak pekerja gratis untuk membantu bekerja di sawah, dan ladang. 

Karena dalam era itu, semua keluarga bisa memenuhi kebutuhannya sendiri dari hasil kebun, dan lahan yang dimiliki. Apakah itu relevan di era industrial? Ketika kebutuhan sebuah keluarga bukan cuma sekedar bisa makan kenyang. Saya teringat nenek saya di desa ketika itu. Dia memang paling “sengsara” dibanding tetangga yang lain, karena ketika panen harus membayar pekerja lepas, karena anak-anaknya semua sudah keluar dari kampung bekerja jadi PNS dan pekerja profesional.

Dahulu di era agraris, kita tidak perlu pulsa HP untuk main TikTok. Anda ngga pernah nonton Youtube yang bikin kita juga ingin bisa punya rumah yang ada kolam renang. Anda cukup puas rekreasi di pematang sawah, sambil duduk di bawah pohon ngga perlu jalan jalan ke luar negeri.

Anak-anaknya tak perlu sekolah karena kompetensi yang dibutuhkan untuk bisa bertahan hidup, dan bercocok tanam cukup diajarkan oleh ayah ke anak laki-lakinya. Dan Ibu akan mengajarkan para anak perempuan, bagaimana membuat pakaian, merajut dan memasak di rumah.

Satu lagi yang sangat menyedihkan adalah, kemampuan orang Indonesia untuk membaca dan mengolah informasi sangat rendah, akibat sistem pendidikan hafalan, dan minat baca yang rendah. Opini menarik dari Lukman Solihin di Nikkei berikut ini, menjelaskan panjang lebar isu ini.

Padahal kemampuan mencerna, dan mengolah informasi sangat penting untuk bisa menjadi inovatif, problem solver, dan membuat terobosan-terobosan baru jadi aset utama di era ekonomi digital. Kita sebenarnya tidak sendiri, Anming Alexander punya keprihatinan yang sama, dia menuliskannya di Medium.  Gerbong-gerbong SDM yang bermental agraris itu masih terjadi di mana-mana, hype di media tentang para inovator seperti startup founder yang aspirasional itu jumlahnya sangat terbatas. 

Indonesia saat ini akan bersiap menyambut bonus demografi, tapi sayang sungguh disayang bonus demografi Generasi  dan Z ini (yang sering menyebutnya Generasi Rebahan), tak tepat lagi disebut sebagai bonus. Mengapa? Karena bonus demografi angkatan kerja muda, tak akan mendongkrak pertumbuhan ekonomi seperti halnya yang pernah terjadi di Cina dan Korea Selatan. Ketika itu tenaga kerja muda mereka yang murah, menjadi bahan bakar pertumbuhan ekonomi karena bisa dipekerjakan di pabrik pabrik yang butuh unskilled worker.

Bonus demografi Indonesia akan menjadi BEBAN DEMOGRAFI  karena saat ini memasuki era digital, di mana tidak lagi membutuhkan unskilled labour yang murah. Generasi Rebahan yang jumlahnya sangat besar, dan dominan butuh ditingkatkan kompetensinya kalau tidak akan menjadi beban, dan akhirnya terjadi instabilitas dan konflik sosial akibat kesenjangan sosial, dan pengangguran akibat tidak mendapatkan pekerjaan.

Baca Juga: 4 Peran Pemerintah dalam Memfasilitasi Ekonomi Digital

Lalu bagaimana solusinya, ini yang perlu diperdalam, terutama menyiapkan masyarakat dan mengubah pola pikir. Kalau Jepang sudah punya konsep Society 5.0, saya terpikir kita harus melompat berpikir Society 6.0 untuk mengantisipasi banyak hal hal yang sebenarnya belum disinggung dalam Society 5.0, misalnya bagaimana terkait spiritualisme, dan masyarakat yang kesepian akibat teknologi, dan digitalisasi.

Ini tema menarik yang ingin saya petakan terlebih dahulu, melakukan riset dll sebelum nanti ide awalnya akan ditulis di blog ini. Saya juga akan sangat senang sekali apabila ada yang mau menyumbangkan pemikiran terkait Society 6.0 ini.

Baca Juga: Robot Sudah di Depan Mata, Tapi 5 Kompetensi Ini Bikin Manusia Tak Tergantikan

 

Tuhu Nugraha

Konsultan Bisnis Digital

Dosen Pasca Sarjana London School of Public Relations (LSPR) Jakarta

Penulis Buku Best Seller WWW.HM Defining Your Digital Strategy

Untuk pembelian buku WWW.HM Defining Your Digital Strategy klik di sini