Wajah Indonesia di Awal 2020 Part II: Apakah Society 5.0 Jawaban Indonesia Emas 2045?

Saya lumayan takjub tulisan saya, Wajah Indonesia di Awal 2020: Konsumsi 4.0, Produksi 3.0, dan Pola Pikir 0.1 ternyata viral ke mana-mana, dan tentu saja ada yang merasa itu on point. Ada yang  menerima dengan syarat, atau menolak mentah-mentah. Saya sudah menduga itu, tidak berharap semua orang setuju, dan tak semua orang siap dengan sikap saya yang brutally honest. Apabila Anda tidak siap, sebaiknya tidak lanjut membaca tulisan ini, karena ini akan lebih banyak disingkap the ugly truth negeri kita dengan lebih brutal!!! Tapi tujuan saya adalah mari kita gotong royong urun rembug cari alternatif solusi pada permasalahan ini.

Lalu apakah Society 5.0 merupakan jawaban untuk negara berflower (baca: negara ber-Kembang) semacam Indonesia? Mau tahu banget? Sila ikuti pemaparan saya, atau kalau ngga punya waktu dan ngga samabaran sila scroll langsung baca di kesimpulan, karena ini bukan novel. 

Screenshot society

Sebelum masuk lebih lanjut ke sana, mari yuk kita cari tahu dulu APA dan MENGAPA SOCIETY 5.0? Society 5.0 ini dicetuskan pemerintah Jepang pada tahun 2016 untuk menjawab beberapa tantangan Jepang menghadapi 2030.

society5_0e-4

Sumber data: website sekretariat kabinet Jepang

Kalau kita lihat dari data itu maka terlihat sekali Society 5.0 sebenarnya menjawab beberapa isu yang khas Jepang. Penduduk yang menua, dan daya kompetitif negaranya yang semakin menurun karena jumlah penduduk tuanya lebih besar, dibanding penduduk yang muda. Ini tentunya berdampak pada bagaimana mereka bisa menjawab tantangan-tantangan yang harus dijawab.

Penduduk yang menua, dengan pertumbuhan penduduk minus, ditambah dengan keengganan orang Jepang menerima imigran menjadi beban bagi pertumbuhan ekonomi mereka. Permasalahan lainnya adalah mobilitas yang bisa mendukung generasi tua tersebut.

Society 5.0 menekankan pentingnya teknologi untuk mengurangi kesenjangan sosial, bukan menyebabkan manusia kehilangan pekerjaan. Di sisi lain yang kita semua lupa, ini adalah solusi bagi Jepang yang menua, dan butuh lompatan inovatif untuk bisa tumbuh dan kompetitif.

Pertanyaannya, bagaimana dengan tantangan Indonesia menuju 2045? Apakah sama dengan yang dihadapi Jepang yang dijawab dengan Society 5.0? Berikut tantangan Indonesia ke depan.

 

Bukan cuma bonus (atau beban demografi) tapi juga kombo, dengan meningkatnya harapan hidup, dan jumlah lansia

Jepang hanya perlu menjawab satu pertanyaan mengenai makin banyaknya penduduk lansia. Penduduk lansia definisinya adalah mereka yang umurnya lebih dari 65 tahun, diumur ini mereka sudah lagi tidak produktif, dan harus dipelihara oleh keluarga atau negara untuk menopang kehidupan mereka.

Screenshot penduduk

Sumber: Visi Indonesia 2045

Kalau merujuk data diatas, maka Indonesia akan masih mencatatkan pertumbuhan penduduk yang tinggi bahkan 1,9% di tahun 2045, bandingkan dengan Jepang yang saat ini pun sudah mengalami pertumbuhan penduduk minus. Di sisi lain jumlah penduduk lansia akan meningkat persentasenya dari 4,99% di tahun 2010, menjadi 13,42% dari total jumlah penduduk di 2045.

Berita buruknya seperti yang sudah saya ulas sekilas di tulisan sebelumnya Industry 4.0 tidak membutuhkan tenaga kerja murah. Bonus demografi menjadi berkah bagi Cina dan Korea untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi, karena tenaga murah yang dibutuhkan perusahaan manufaktur. Lalu bagaimana kita akan menjawab ini? Bahkan pertanyaan yang lebih mendasar, apakah akademisi dan pemerintah menyadari soal tantangan ini?

 

Lompatan teknologi dan Industry 4.0, maka akan menghilangkan banyak pekerjaan bukan cuma di blue collar, tetapi juga white collar

Industry 4.0 dengan kecanggihan teknologi sebenarnya bukan cuma akan melibas tenaga buruh, tapi juga akan menggantikan manajer level menegah dan atas oleh big data dan artificial intelligence. Berita buruknya kita akan menghadapi dua pukulan ini sekaligus. Selama ini industri kita masih terlindungi oleh upah buruh murah, di mana di negara maju semacam Jepang mereka sudah banyak menggunakan otomasi di pabrik.

Baca Juga: 3 Buku Tentang Artificial Intelligence (AI)

Saya ingat 2009 berkesempatan berkunjung ke pabrik Otsuka di Jepang. Satu pabrik mereka sudah menggunakan mesin dan robot untuk produksi, hanya ada satu orang yang menjaga, dan memperbaiki ketika ada kerusakan.  Upah yang mahal membuat mekanisasi dan robot adalah berkah, dan solusi.

Bagaimana dengan Indonesia?  Upah buruh yang makin meningkat, kelas menengah yang melonjak, bahkan diperkirakan akan mencapai 85 juta orang di tahun 2020. Konsekuensinya kita tidak kompetitif dibandingkan negara lain. Sisi lain, dengan digitalisasi robot  dan mesin makin murah, karena untuk upgrade tidak perlu mengganti fisik, cukup upgrade piranti lunak. 

Kelas menengah kita juga terancam oleh kehadiran teknologi semacam Artificial Intelligence dan block chain, yang akan banyak memakan pekerjaan-pekerjaan yang sebelumnya dikerjakan kelas menengah. Teknologi ini juga semakin murah, dan sangat dimungkinkan dengan adanya 5G. Indonesia bisa saja menggunakan strategi bertahan untuk menunda implementasi 5G, tetapi itu juga bukan pilihan bijaksana, karena akan kalah kompetitif dibandingkan negara lain. 

Selama ini pun Indonesia kekurangan SDM untuk level manajemen menengah, dan atas akibat buruknya sistem pendidikan kita, dan ekspos terhadap pengalaman global. Informasi lengkap terkait ini, sila baca di sini. Apakah Society 5.0 akan bisa menjawab tantangan ini? Mau  kemana penduduk usia produktif ini, yang jumlahnyabesar, dan kemampuan rendah?

Baca Juga: Robot Sudah di Depan Mata, Tapi 5 Kompetensi Ini Bikin Manusia Tak Tergantikan

 

Pergeseran dari Sandwich Generation Agraris 0.1, menuju Generasi Survivor Individualis 

Analisa ini pasti akan sangat susah diterima (maafkan aku yang brutally honest). Pergeseran ini sudah terjadi di negara-negara lain yang mengalami transisi dari masyarakat agraris menjadi masyarakat industri. Kalau kita berkaca di negara-negara Asia, Jepang adalah yang pertama. Lalu berikutnya ini juga menjadi isu di Korea, dan Singapura.

Apa itu Generasi Sandwich? Generasi Sandwich adalah generasi produktif  yang harus menanggung dua generasi di bawah (anak) dan atasnya (orang tua). Sistem agraris membuat anak harus berbakti, dan menjaga dan menghidupi orang tuanya. Tetapi pergeseran pola pikir, lalu biaya hidup yang makin mahal, membuat Generasi Sandwich di Korea misalnya yang ikut mendorong ekonomi Korea pasca perang saudara, sekarang menjadi generasi yang terlunta-lunta. Begitu juga yang terjadi di Singapura. Para lansia Generasi Sandwich harus tetap bekerja, dan mandiri, karena anaknya tidak bisa menghidupi mereka.  Investigasi lengkap diliput oleh The Economist.

Ini terjadi karena terjadinya pergeseran nilai, dan biaya hidup yang semakin mahal. Generasi dibawahnya sudah cukup kerepotan untuk memenuhi biaya hidupnya sendiri, misal cicilan properti, biaya sekolah, biaya hidup dll. Biaya hidup makin tinggi, karena sebagian besar tinggal di perkotaan, dan kalau melihat data diatas jumlah penduduk di perkotaan di 2045  meningkat pesat menjadi 69,1%. Variabel lain yang mempengaruhi, karakter generasi  Y dan Z dengan prinsip You Only Life Once (YOLO), banyak menghabiskan penghasilan untuk mengkonsumsi pengalaman, dan lebih sedikit berinvestasi.

Apakah Society 5.0 mencakup persoalan ini? Tentu saja tidak karena Jepang sudah melewati siklus itu.

 

Lompatan Agraris 0.1 Menjadi Society 5.0 akan menjadi tragedi tragis abad ini semacam Tarzan Masuk Kota

Saya jadi teringat film jaman dahulu yang diperankan Benyamin S “Tarzan Kota”. Lompatan masyarakat agraris yang harus melompati modernitas mengakibatkan guncangan kultural yang tak pernah dialami Jepang. Sebenarnya Jepang mengalami ini ketika ditaklukkan Amerika sebelum Restorasi Meiji. Kita akan menyambut antusias segala modernitas yang bikin naik kelas sosial, keliatan modern tapi ternyata cuma liat kulitnya saja. Masyarakat yang melihat teknologi sebagai alat konsumsi, bukan produksi.  Cerita akhirnya tergilas oleh IOT, Robot dll, saat itulah maka semacam Tarzan yang mulai ngamuk, stres karena bulan madu telah usai. Where is my cheese?????? Industry 4.0 bukan cuma memanjakan Generasi Rebahan, kalau ngga mampu berevolusi maka “cheese” alias pekerjaan dan nilai tambah kita dirampas.

Skenario lainnya, misal sejahtera secara ekonomi, semua dikelola oleh negara. Tapi apakah manusia hanya butuh tercukupi  kebutuhan fisik dan ekonomi? Bagaimana dengan individualisme yang terlalu melompat, membuat manusia manusia kesepian, dan hampa? Parameter yang digunakan saat ini, bahkan kaitannya dengan Society 5.0 masih berkutat dengan pola pikir pertumbuhan ekonomi yang tidak merusak lingkungan, dan berkelanjutan. 

Lompatan kita dari masyarakat agraris yang komunal, menjadi individualis saat semua dilakukan obot atas nama efisiensi, apakah bisa menjawab kebutuhauntuk bersosialisasi, dan menjadi bahagia?

Jadi gimana masih yakin Society 5.0 ? Dari pemaparan diatas, saya sangat yakin Society 5.0 ini hanya akan cocok untuk Jepang, dan negara-negara maju seperti Eropa &Amerika. Indonesia sebagai negara berflower, dan negara berkembang lainnya perlu mencari solusi lain untuk menghadapi tantangannya.

Itu sebabnya kita perlu membahas mengenai Society 6.0, yokkkk mari urun rembug gotong royong. Semua ide dan kontribusi dihargai.

 

Tuhu Nugraha

Konsultan Bisnis Digital

Dosen Pasca Sarjana London School of Public Relations (LSPR) Jakarta

Penulis Buku Best Seller WWW.HM Defining Your Digital Strategy

Untuk pembelian buku WWW.HM Defining Your Digital Strategy klik di sini