pop_culture_obsessions

Mengubah Persepsi Startup Digital Hanya Sebuah Pop Culture

Startup business atau perusahaan rintisan digital sering kali identik dengan anak muda dan milenial. Profilnya adalah lulus lalu bikin perusahaan startup, biar punya kartu nama CEO. Persepsi lainnya, adalah perusahaan startup digital itu hanya bakar-bakaran duit saja, tapi tidak menguntungkan.

Intinya mendirikan startup digital itu adalah bagian dari budaya populer milenial, yang tidak relevan untuk generasi yang lebih senior. Padahal riset yang dilakukan Noam Wasserman di buku “The Founder’s Dilemmas”, startup digital yang sukses adalah yang para foundernya sudah punya pengalaman di industri, sehingga bisa mendisrupsi dan melakukan inovasi.

Ada beberapa inovasi yang dilakukan antara lain adalah edukasi melalui ikon, wadah kolaborasi bisnis lintas generasi, mewadahi mentor dan advisor dari berbagai industri.

Sosok role model menjadi penting untuk dipromosikan, untuk mengubah persepsi publik bahwa ini bukan tren dan budaya pop

Beberapa startup digital di Indonesia yang sukses dan bertahan misalnya Gojek, Traveloka, HaloDoc, Investree didirikan oleh mereka yang punya pengalaman kerja yang panjang, dan juga pengalaman di industrinya. Karena mereka bergelut lama di industrinya maka mereka tahu bagian mana dari industri yang bisa didisrupsi dengan teknologi.

Sosok ini perlu dipilih salah satu, untuk kemudian dipromosikan secara besar-besaran oleh pemerintah untuk menggeser persepsi bahwa startup digital hanya “mainan” generasi milenial. Kalau Anda membaca buku “China’s Disruptor” yang ditulis Edward Tse, Jack Ma itu tidak mendadak populer begitu saja. Tapi Jack Ma memang dijadikan ikon oleh pemerintah untuk mengkampanyekan Massive Innovation Massive Entrepreneurship. Kenapa Jack Ma? Karena Jack Ma sosok yang paling relevan bagi sebagian besar masyarakat Cina, bukan lulusan luar negeri, dan kaum elit intelektual.

Membangun wadah mentor dari mereka yang punya jam terbang di industri untuk menjadi mentor dan advisor

Hal ini sebenarnya telah dilakukan oleh Endeavortapi mereka hanya mengambil segmen yang ditahapan scale up. Perusahaan rintisan yang baru memulai harus belajar dan survive sendiri, oleh karena itupara pelaku industri yang punya pengalaman yang sangat panjang dilibatkan misalnya di berbagai incubator, accelerator dll. Para mentor dan advisor ini tidak harus punya pemahaman mengenai industri startup, tapi nilai tambah mereka adalah mereka mempunyai pengalaman, jejaring, dan koneksi diindustri.

Ini akan menjadi aset yang sangat penting bagi para founder untuk memvalidasi idenya apakah benar diterima oleh pasar? Apakah benar merupakan solusi yang dibutuhkan? Tujuan akhirnya adalah inovasi yang bukan melulu itu-itu saja.

Mendorong iklim yang lebih baik untuk kolaborasi membangun startup digital lintas generasi

Berbagai sumber mengatakan kolaborasi dengan tim yang semakin beragam maka hasilnya akan semakin bagus. Keragaman sebenarnya bukan hanya dari latar belakang, ras, skill tapi juga umur. Mereka yang senior maka punya pengalaman yang lebih luas, koneksi lebih banyak, pemahaman industri yang mendalam.

Mereka yang muda, punya energi yang lebih banyak, ide-ide segar, inovasi out of the box dan lebih update dengan teknologi terkini. Kedua kekuatan ini seharusnya dijembatani bukan justru dibangun tembok tinggi.

Oleh karena itu perlu dirancang sebuah sistem atau kegiatan yang bisa mengakomodasi kedua generasi ini untuk saling bertemu, memahami dan menghargai kekuatan masing-masing, lalu akhirnya berkolaborasi.

Ada lagi yang mau ditambahkan?

 

Tuhu Nugraha

Konsultan Bisnis Digital

Dosen Pasca Sarjana London School of Public Relations (LSPR) Jakarta & Komunikasi UI

Penulis Buku Best Seller WWW.HM Defining Your Digital Strategy