Source: https://techcrunch.com/2019/02/06/how-students-are-founding-funding-and-joining-startups/

4 Hal Penting Perjodohan Mencari Co-Founder Membangun Startup

Ketika kemarin menjadi salah satu panelis di acara Indonesia Future Fest, ada satu penanya yang menurut saya sangat menarik, dan menggelitik untuk kemudian didokumentasikan dalam bentuk tulisan. Karena ditengah kegairahan membangun startup dan jadi pengusaha, kolaborasi menjadi tak terelakkan.

Lalu pertanyaannya, berkolaborasi dengan siapa? Sehingga tidak pecah dan ambyar di tengah jalan? Tulisan ini berdasarkan pengalaman pribadi, dan juga sangat banyak dipengaruhi hasil riset dari Noam Wasserman di buku Founders Dilemma. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan; kesamaan sistem nilai, keahlian yang saling melengkapi, kejelasan pembagian peran dan porsi saham, serta motivasi utama mendirikan startup

Perlu tahu, apakah sesama cofounder punya visi dan sistem nilai yang sama, ini penting agar tidak pecah sebelum berkembang

Apa yang dianggap penting buat Anda, apakah sama dengan calon cofounder? Misalnya Anda percaya pentingnya pemberdayaan dalam usaha yang dibentuk, sementara cofounder merasa yang paling penting adalah keuntungan, maka ini sudah akan menjadi potensi masalah besar di depan.

Alasan dan motivasi membangun bisnis masing-masing Founder harus sejalan. Tidak ada yang lebih benar atau lebih baik, tapi kesamaan visi dan nilai yang dianggap penting akan membuat usaha akan berjalan lancar, dan meminimalisasi potensi konflik.

Co-founder harusnya saling melengkapi, bersama mereka yang mirip memang lebih nyaman tapi tak akan berguna justru menimbulkan konflik

Co-Founder harusnya saling melengkapi. Digital startup biasanya mengenal tiga tipe co-founder yang dianggap akan membuat potensi berhasil akan makin tinggi, yaitu gabungan tipe hipster (bagian kreatif dan desain), hacker (bagian IT dan pemrograman), hustler (yang paham soal bisnis dan jualan).

Mereka yang punya keahlian yang sama, akan menyebabkan tumpang tindih tugas dan wewenang. Di sisi lain, akan menimbulkan lebih banyak biaya untuk merekrut karyawan atau outsource pekerjaan. Ini akan sangat merugikan ditahap startup, karena bisanya startup dimulai dengan pendanaan terbatas. Kedua, startup harus selalu fleksibel dan banyak eksperimen, apabila pekerjaan ini diserahkan ke pihak luar maka pekerjaan dan koordinasi jadi lama, dan biaya membengkak.

Kejelasan pembagian tugas dan wewenang, serta porsi saham jangan menanti ketika besar dan jadi ribut

Startup harus dimulai dengan kejelasan wewenang sedari awal. Sering kali diawal ada yang memberi jabatan Co-CEO yang sangat tidak sehat. Mengapa? Semua orang punya otoritas yang saling tumpang tindih. Ini akan menjadi sumber konflik, atau membuat pengambilan keputusan terlalu panjang.

Garis wewenang harus jelas, siapa yang menjadi lokomotif, dan siapa yang menjadi gerbong yang mengikuti arahan. Ini bukan berarti co-founder tak punya hak suara memberi masukan, tetapi terkait dengan siapa yang berhak ketok palu disaat kritis, atau saat terjadi perdebatan.

Pembagian saham yang jelas juga sangat perlu diawal, ini bisa didasarkan jumlah uang yang disetorkan atau juga kontribusi waktu dan tenaga yang disumbangkan ke startup yang dibuat. Ini juga untuk menghindari potensi konflik kelak, karena ada Co-Founder yang merasa kontribusinya tak sepadan dengan apa yang diperoleh.

Apa motivasi utamanya? Uang atau Kontrol? Tak ada yang salah, tapi harus ditentukan sedari awal

Beberapa orang termotivasi oleh uang, jadi ketika ada investor besar yang berniat membeli, dan bagi dia nilainya masuk akal maka akan dilepas, ini disebut sebagai serial entrepreneur. Ada yang tak terlalu tergoda dengan ini, kontrol akan perusahaan bagi mereka lebih penting, maka mereka akan sangat idealis untuk tidak melepaskan saham terlalu besar ke pihak lain, karena ini berarti melepaskan kontrol akan perusahaannya.

Tiap orang termotivasi akan hal yang berbeda, pastikan bahwa Co-Founder kita punya cara pandang yang sama. Ini untuk menghindari potensi konflik yang akan terjadi di belakang, ketika ada investor masuk atau Venture Capital yang akan melakukan pendanaan.

Apakah variabel-variabel ini masuk akal? Atau ada ide lain yang perlu dipertimbangkan? Mari bergabung di kolom komentar.

 

Tuhu Nugraha

Konsultan Bisnis Digital

Dosen Pasca Sarjana London School of Public Relations (LSPR) Jakarta & Komunikasi UI

Penulis Buku Best Seller WWW.HM Defining Your Digital Strategy