content-marketing-go-viral

Video Viral Rebutan Rendang Sasa, Apakah Efektif?

Beberapa hari yang lalu, ada sebuah iklan yang sempat jadi perbincangan netizen, soal ibu-ibu yang rebutan rendang di kondangan. Ketika saya melakukan riset singkat, tampaknya potongan video awal yang sempat viral itu dimulai dari akun @hati2dimedsospada tanggal 16 September. Akun ini dugaan saya, yang sengaja dipilih untuk membuat kontennya menjadi viral.

rebutan-rendang

Ini sangat logis, karena Twitter, walaupun jumlah penggunanya sekarang menurun jauh, dan kalah trendy dibanding Instagram atau Facebook punya pesona dan kekuatannya sendiri. Twitter menjadi acuan bagi para jurnalis untuk mengamati apa yang lagi hangat diperbincangkan, lalu diliput.

Sebagai sebuah konten pemasaran apabila tujuannya untuk menjadi viral, berhasil dengan sangat baik. Mereka berhasil membuat bukan cuma netizen, tapi juga media kepo, dan menurunkan berita. Perlahan, foto leak out juga dihembuskan setelahnya kalau ini adalah iklan. Lalu dua hari setelahnya di tanggal 18 September, video lengkapnya muncul di akun Instagram Sasa.

Saya melihat ada beberapa aspek dari sisi iklan ini yang bisa dibahas. Pertama, iklan ini bila bicara kaitannya dengan viral, dan memanfaatkan konteks dan momentum, maka patut diacungi jempol. Semua orang akhirnya ikut kepo, nonton video, menyebarkan dan ngomongin video ini.

Kedua, bagaimana dengan aspek etika periklanan? Saya ada dalam posisi, ini semacam penipuan. Iklan ini memanfaatkan kelemahan otak manusia yang tidak mampu mengolah informasi yang sekarang terlalu berlimpah. Konten yang viral tentu boleh saja, tapi mengapa harus memanipulasi diawal? Seolah-olah ini adalah kejadian nyata? Tropicana Slim Stevia dengan Webseries Sore menjadi viral, dan tak perlu membohongi konsumennya. Sedari awal mereka tahu, terhibur, teredukasi tapi tetap membicarakan dan membagikan iklan ini. Kompas juga menurunkan artikel dampak iklan tersebut bagi anak-anak yang menonton iklan ini, akan meniru adegan yang tidak mendidik, ini didasarkan pada opini ahli psikologi.

screenshot-lambe-turah

Ketiga, saya tertarik untuk berandai-andai apa sebenarnya tujuan dari Sasa membuat iklan ini? Apakah sekedar membangun awareness ke publik? Atau orang coba dan beli? Kalau tujuannya hanya orang tahu, maka saya harus katakan mereka sangat sukses. Semua orang membicarakan, dan jadi tahu kalau Sasa punya bumbu rendang. Karena Sasa sukses memberikan bahan obrolan bagi masyarakat di online atau saat kopdar.

Tapi apakah ini otomatis akan meningkatkan penjualan? Apakah orang akan tertarik membeli produknya? Ini saya masih tidak yakin, dan dilakukan riset, dan juga data dari internal Sasa pastinya. Karena banyak juga yang merasa tertipu, dan akhirnya jadi antipati. Ini tentu akan merugikan bagi Sasa.

Keempat, saya membayangkan kalau tujuannya bukan sekadar awareness, tapi juga bikin orang coba, dan mau membeli. Iklannya ini tidak bisa berhenti sampai di sana, misalnya di akun Lambe Turah atau apapun bilang Sasa minta maaf karena sudah melakukan prank, sebagai bentuk permohonan maaf maka ada diskon khusus untuk semua orang yang membeli produk ini di ecommerce entah marketplace atau pun di situs webnya sendiri. Atau dilanjutkan dengan bikin aktivasi offline bagi-bagi rendang Sasa gratis, sebagai wujud permintaan maaf.

Karena saya kuatir konten ini hanya menjadi viral saja, tapi orang tidak membeli. Karena tujuan akhir dari bisnis tentu saja penjualan, dan saat ini menjadi viral memang sangat mudah, lalu mudah terlupakan tertimpa isu lain. Pemasar di era digital tantangan berikutnya adalah, bukan sekedar viral, tapi mengoptimalkan aset viral ini, dikonversi ke penjualan.

Bagaimana menurut Anda? Menurut Anda iklan ini sukses atau tidak? Bisa meningkatkan penjualan atau tidak? Mari kita berdiskusi.

 

Tuhu Nugraha

Konsultan Bisnis Digital

Dosen Pasca Sarjana London School of Public Relations (LSPR) Jakarta & Komunikasi UI

Penulis Buku Best Seller WWW.HM Defining Your Digital Strategy

Untuk pembelian buku WWW.HM Defining Your Digital Strategy klikdi sini