learning

4 Tantangan Universitas dan Perguruan Tinggi di Era Ekonomi Digital

Sebagai seorang trainer dan juga dosen di berbagai universitas, saya melihat disrupsi digital di industri pendidikan sudah semakin dekat. Setelah guncangan disrupsi menyerang industri media, transportasi logistik, musik hingga finansial. Berikutnya yang harus segera berkemas adalah perguruan tinggi, dan industri pendidikan secara keseluruhan.

Ada beberapa tantangan berikut yang harus dijawab Perguruan Tinggi di era digital, adaptasi harus segera dilakukan sebelum tergerus jaman, dan tergantikan oleh startup digital yang lebih canggih& inovatif.

Dosen bukan satu-satunya, dan sumber utama ilmu pengetahuan

Digitalisasi membuat informasi menjadi murah, mudah diakses, dan ada dimana-mana. Dosen dulu mempunyai peran sentral sebagai penyalur informasi, dan pengetahuan dalam sistem perguruan tinggi. Saat ini, hal itu menjadi tidak relevan, karena internet membuat mahasiswa bisa jadi tahu lebih banyak dibanding dosennya. Mahasiswa bisa jadi membaca lebih banyak referensi buku, dan jurnal dibanding dosennya.

Oleh karena itu peran dosen pun sekarang bergeser, bukan lagi sebagai pusat informasi, tapi sebagai moderator diskusi dalam kelas, menjadi kurator konten mana yang harus dibaca, menjadi penasihat sumber mana yang layak dipercaya dll.

Perkembangan industri lebih cepat, daripada kemampuan adaptasi kurikulum

Industri lebih cepat tumbuh dari kurikulum, ini sudah persoalan lama. Kesenjangan ini di era digital makin dalam, karena digitalisasi menyebabkan inovasi bergerak sangat cepat, dan membutuhkan beragam kompetensi, dan pengetahuan baru yang hampir tak terkejar oleh perguruan tinggi.

Ini tantangan yang saya lihat perlu diantisipasi oleh perguruan tinggi. Universitas dan perguruan tinggi idealnya berhubungan erat dengan industri untuk berkolaborasi mengadakan riset, sehingga akan selalu terdepan dalam memahami kebutuhan jaman. Silabus perkuliahan hendaknya juga selalu dievaluasi ulang setiap semester, berdasarkan perkembangan jaman, dan juga perbandingan dengan mata kuliah serupa yang dilakukan di berbagai universitas di negara lain. Perbandingan silabus ini sering kali saya lakukan, untuk mendapatkan ide baru, dan mengakselerasi inovasi perkuliahan agar tetap relevan.

Mahasiswa menginginkan personalisasi dalam berbagai aspek misal feedback dari dosen hingga mata kuliah yang diambil

Digitalisasi sebagian besar adalah tentang personalisasi. Tuntutan berikutnya akan masuk juga ke ranah perguruan tinggi, mahasiswa menginginkan feedback personal dari tiap dosen akan perkembangan proses belajar mereka. Mahasiswa juga ingin mengambil mata kuliah hanya yang relevan dengan karir masa depan mereka, atau mata kuliah yang sesuai dengan minat mereka.

Paket mata kuliah hingga lulus yang sama untuk semua mahasiswa akan terlihat kuno dan membosankan. Mereka yang ingin menjadi seorang Content Creator misalnya ingin mengambil kelas membuat video, penulisan tapi juga mata kuliah pemasaran dan entrepreneurship.

Ini jadi tantangan universitas dan perguruan tinggi untuk memberikan kebebasan yang lebih luas bagi mahasiswa, untuk melakukan personalisasi sesuai dengan kebutuhan mereka.

Industri Tak Butuh Lagi Ijazah Tapi Kompetensi

Perguruan tinggi saat ini paradigmanya masih jualan ijazah, sementara di industri tak peduli punya ijazah, atau tidak yang penting kompeten maka direkrut. Ini seharusnya jadi peringatan besar bagi universitas, apa strateginya menjawab perubahan jaman.

Pendekatan yang bisa dilakukan adalah, nilai tambah apa yang bisa diberikan universitas selain ijazah? Yang mungkin akan dibutuhkan oleh industri. Atau alternatif lain universitas beralih fungsi menjadi market place berbagai kompetensi yang dibutuhkan oleh industri saat ini dan di masa depan?

Apakah ada hal lain yang belum terangkum di sini? Ditunggu masukannya di kolom komentar.

 

Tuhu Nugraha

Konsultan Bisnis Digital

Dosen Pasca Sarjana London School of Public Relations (LSPR) Jakarta & Komunikasi UI

Penulis Buku Best Seller WWW.HM Defining Your Digital Strategy

Untuk pembelian buku WWW.HM Defining Your Digital Strategy klikdi sini